Posts Subscribe to (PUT YOUR BLOG NAME HERE)Comments

Minggu, 05 Juli 2009

Syair Bangsaku




Malam uroe langet menjulang

Lam lantunan hate si boh hate sayang

Lam langet bintang ulon bersyair ngen ie mata

Lon duek lon eh mata lon me luka



Sagai nanggroe meuraba-raba

Bintang meuhambo roet u bumoe

Hate lon hanco lam malam jula

Wahai boh hate yang lon puja

Sagai nanggroe meuraba-raba

Bintang meuhambo roet u bumoe

Hate lon hanco lam malam jula

Wahai boh hate yang lon puja



Lam laot raya ulon meupanton

Lam hate bimbang ulon meurana

Wahee boh hate bungoeng seulanga

Lam rimba raya ulon hana ngen



Duhai adinda yang canden rupa

Ngen ija sawak lagak meuhalak

Ngen bajee panyang indah meuwareuna

Hate lon klam lam indah meuhalak



Wahee bungoeng yang puteh licen

Indah boh hatee lam cahaya buleun

Lam bumoe raya na bungoeng seulanga

Bugoeng boh hate yang lon cinta



Duhai dara nyang meupanton

Di seuramoe pinto ngen hate seudeh

Adakna cut abang na meusandeng lam panton

Cukoep bahagia hate bungoeng nyang seudeh


Read More “Syair Bangsaku”  »»

Macam-Macam Bahasa Aceh

Bahasa Aceh

Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total penduduk provinsi NAD. Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami kabupaten Aceh Besar, kota Banda Aceh, kabupaten Pidie, kabupaten Aceh Jeumpa, kabupaten Aceh Utara, kabupaten Aceh Timur, kabupaten Aceh Barat dan kota Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di kabupaten Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka. Hal ini dapat kita jumpai pada komunitas masyarakat Aceh di Medan, Jakarta, Kedah dan Kuala Lumpur di Malaysia serta Sydney di Australia.

Bahasa Gayo

Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno, meskipun kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Aceh yang mendiami kabupaten Aceh Tengah, sebahagian kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair kesenian didong.

Bahasa Alas

Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di kabupaten Singkil, merupakan masyarakat penutur asli dari bahasa Alas. Penduduk kabupaten Aceh Tenggara yang menggunakan bahasa ini adalah mereka yang berdomisili di lima kecamatan, yaitu kecamatan Lawe Sigala-gala, Lawe Alas, Bambel, Babussalam, dan Bandar.

Bahasa Tamiang

Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah kabupaten Aceh Timur), kecuali di kecamatan Manyak Payed (yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan kota Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang.

Bahasa Aneuk Jamee

Bahasa ini sering juga disebut (terutama oleh penutur bahasa Aceh) dengan bahasa Jamee atau bahasa Baiko. Di kabupaten Aceh Selatan bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang mendiami wilayah-wilayah Susoh, Labuhan Haji, Samadua, Tapaktuan, dan Kluet Selatan. Di luar wilayah Aceh Selatan, bahasa ini juga digunakan oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat di kabupaten Singkil dan Aceh Barat, khususnya di kecamatan Kaway 16 (Desa Peunaga Rayek, Rantau Panyang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Ranto Kleng), serta di kecamatan Johan Pahlawan (khususnya di desa Padang Seurahet). Bahasa Aneuk Jamee adalah bahasa yang lahir dari assimilasi bahasa sekelompok masyarakat Minang yang datang ke wilayah pantai barat Aceh dengan bahasa daerah masyarakat tempatan, yakni bahasa Aceh. Nama Aneuk Jamee (yang secara harfiah bermakna ‘anak tamu’, atau ‘bangsa pendatang’) yang dinisbahkan pada bahasa ini adalah refleksi yang tersirat dari makna masyarakat pendatang itu sendiri. Bahasa ini dapat disebut sebagai variant dari bahasa Minang.

Bahasa Kluet

Bahasa Kluet merupakan bahasa ibu bagi masyarakat yang mendiami daerah kecamatan Kluet Utara dan Kluet Selatan di kabupaten Aceh Selatan. Informasi tentang bahasa Kluet, terutama kajian-kajian yang bersifat akademik, masih sangat terbatas. Masyarakat Aceh secara luas, terkecuali penutur bahasa Kluet sendiri, tidak banyak mengetahui tentang seluk-beluk bahasa ini. Barangkali masyarakat penutur bahasa Kluet dapat mengambil semangat dari PKA-4 ini untuk mulai menuliskan sesuatu dalam bahasa daerah Kluet, sehingga suatu saat nanti masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan buku-buku dalam bahasa Kluet baik dalam bentuk buku pelajaran bahasa, cerita-cerita pendek, dan bahkan puisi.

Bahasa Singkil

Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama sekali dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di kabupaten Singkil. Dikatakan sebahagian karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang menggunakan bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam. Selain itu masyarakat Singkil yang mendiami Kepulauan Banyak, mereka menggunakan bahasa Haloban. Jadi sekurang-kurangnya ada enam bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa komunisasi sehari-hari diantara sesama anggota masyarakat Singkil selain bahasa Indonesia. Dari sudut pandang ilmu linguistik, masyarakat Singkil adalah satu-satunya kelompok masyarakat di provinsi NAD yang paling pluralistik dalam hal penggunaan bahasa.

Bahasa Haloban

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang digunakan oleh masyarakat di kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama sekali di Pulau Tuanku. Bahasa ini kedengarannya sangat mirip dengan bahasa Devayan yang digunakan oleh masyarakat di pulau Simeulue. Jumlah penutur bahasa Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini hanya tinggal dalam catatan-catatan kenangan para peneliti bahasa daerah.

Bahasa Simeulue

Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang. Dalam penelitian Morfologi Nomina Bahasa Simeulue, menemukan bahwa kesamaan nama pulau dan bahasa ini telah menimbulkan salah pengertian bagi kebanyakan masyarakat Aceh di luar pulau Simeulue: mereka menganggap bahwa di pulau Simeulue hanya terdapat satu bahasa daerah, yakni bahasa Simeulue. Padahal di kabupaten Simeulue kita jumpai tiga bahasa daerah, yaitu bahasa Simeulue, bahasa Sigulai (atau disebut juga bahasa Lamamek), dan bahasa Devayan. Ada perbedaan pendapat di kalangan para peneliti bahasa tentang jumlah bahasa di pulau Simeulue. misalnya, mengatakan bahwa di pulau Simeulue hanya ada satu bahasa, yaitu bahasa Simeulue. Akan tetapi bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan di kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang digunakan oleh masyarakat di wilayah kecataman Simeulue Barat dan kecamatan Salang.

Read More “Macam-Macam Bahasa Aceh”  »»

Pakaian adat Aceh

Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik yang biasa selalu dikenakan pada acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain:

Keureusang (Kerosang/Kerongsang/Bros)

adalah perhiasan yang memiliki ukuran panjang 10 Cm dan lebar 7,5 Cm. Perhiasan dada yang disematkan di baju wanita (sejenis bros) yang terbuat dari emas bertatahkan intan dan berlian. Bentuk keseluruhannya seperti hati yang dihiasi dengan permata intan dan berlian sejumlah 102 butir. Keureusang ini digunakan sebagai penyemat baju (seperti peneti) dibagian dada. Perhiasan ini merupakan barang mewah dan yang memakainya adalah orang-orang tertentu saja sebagai perhiasan pakaian harian.

Patam Dhoe

Patam Dhoe adalah salah satu perhiasan dahi wanita Aceh. Biasanya dibuat dari emas ataupun dari perak yang disepuh emas. Bentuknya seperti mahkota.
Patam Dhoeterbuat dari perak sepuh emas. Terbagi atas tiga bagian yang satu sama lainnya dihubungkan dengan engsel. Di bagian tengah terdapat ukuran kaligrafi dengan tulisan-tulisan Allah dan di tengahnya terdapat tulisan Muhammad-motif ini disebut Bungong Kalimah-yang dilingkari ukiran bermotif bulatan-bulatan kecil dan bunga.

Peuniti

Seuntai Peuniti yang terbuat dari emas; terdiri dari tiga buah hiasan motif Pinto Aceh. Motif Pinto Aceh dibuat dengan ukiran piligran yang dijalin dengan motif bentuk pucuk pakis dan bunga. Pada bagian tengah terdapat motif boheungkot (bulatan-bulatan kecil seperti ikan telur). Motif Pinto Aceh ini diilhami dari bentuk pintu Rumah Aceh yang sekarang dikenal sebagai motif ukiran khas Aceh. Peuniti ini dipakai sebagai perhiasan wanita, sekaligus sebagai penyemat baju.

Simplah

Simplah merupakan suatu perhiasan dada untuk wanita. Terbuat dari perak sepuh emas. Terdiri dari 24 buah lempengan segi enam dan dua buah lempengan segi delapan. Setiap lempengan dihiasi dengan ukiran motif bunga dan daun serta permata merah di bagian tengah. Lempengan-lempengan tersebut dihubungkan dengan dua untai rantaiSimplah mempunayi ukuran Panjang sebesar 51 Cm dan Lebar sebesar 51 Cm..

Subang Aceh

Subang Aceh memiliki Diameter dengan ukuran 6 Cm. Sepasang Subang yang terbuat dari emas dan permata. Bentuknya seperti bunga matahari dengan ujung kelopaknya yang runcing-runcing. Bagian atas berupa lempengan yang berbentuk bunga Matahari disebut "Sigeudo Subang". Subang ini disebut juga subang bungong mata uro.

Taloe Jeuem

Seuntai tali jam yang terbuat dari perak sepuh emas. Terdiri dari rangkaian cincin-cincin kecil berbentuk rantai dengan hiasan be4ntuk ikan (dua buah) dan satu kunci. Pada ke dua ujung rantai terdapat kait berbentuk angka delapan. Tali jam ini merupakan pelengkap pakaian adat laki-laki yang disangkutkan di baju.

Hasilnya kayak beginilah kira kira...

Read More “Pakaian adat Aceh”  »»

Alat Musik Tradisional Aceh

Tulisan ini mencoba menginventaris kembali serta memperkenalkan alat-alat musik tradisional Aceh yang masih eksis maupun yang hampir punah untuk dikembangkan kembali serta dihayati karena ini merupakan suatu warisan yang harus tetap dijaga dan dipelihara kelestariannya. yang nantinya bisa bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

amiiiinnnnnnn….. ken nyoe meunan rakan… man alat musik jih kiban dilee…

jangan panik……. lets do it










Jenis-Jenis Alat Musik Di NAD

Arbab
Instrumen ini terdiri dari 2 bagian yaitu Arbabnya sendiri (instrumen induknya) dan penggeseknya (stryk stock) dalam bahasa daerah disebut : Go Arab. Instrumen ini memakai bahan : tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai.

Musik Arbab pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Arbab ini dipertunjukkan pada acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat, pasar malam dsb. Sekarang ini tidak pernah dijumpai kesenian ini, diperkirakan sudah mulai punah. Terakhir kesenian ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Bangsi Alas
Bangsi Alas adalah sejenis isntrumen tiup dari bambu yang dijumpai di daerah Alas, Kabupeten Aceh Tenggara. Secara tradisional pembuatan Bangsi dikaitkan dengan adanya orang meninggal dunia di kampung/desa tempat Bangsi dibuat. Apabila diketahui ada seorang meninggal dunia, Bangsi yang telah siap dibuat sengaja dihanyutkan disungai. Setelah diikuti terus sampai Bangsi tersebut diambil oleh anak-anak, kemudian Bangsi yang telah di ambil anak-anak tadi dirampas lagi oleh pembuatnya dari tangan anak-anak yang mengambilnya. Bangsi inilah nantinya yang akan dipakai sebagai Bangsi yang merdu suaranya. Ada juga Bangsi kepunyaan orang kaya yang sering dibungkus dengan perak atau suasa.

Serune Kalee (Serunai)
Serune Kalee merupakan isntrumen tradisional Aceh yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh. Musik ini populer di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Biasanya alat musik ini dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan. Bahan dasar Serune Kalee ini berupa kayu, kuningan dan tembaga. Bentuk menyerupai seruling bambu. Warna dasarnya hitam yang fungsi sebagai pemanis atau penghias musik tradisional Aceh.

Serune Kalee bersama-sama dengan geundrang dan Rapai merupakan suatau perangkatan musik yang dari semenjak jayanya kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang tetap menghiasi/mewarnai kebudayaan tradisional Aceh disektor musik.

Rapai
Rapai terbuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda. Sejenis instrumen musik pukul (percussi) yang berfungsi pengiring kesenian tradisional.

Rapai ini banyak jenisnya : Rapai Pasee (Rapai gantung), Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng (rapai macam), Rapai Pulot dan Rapai Anak.

Geundrang (Gendang)
Geundrang merupakan unit instrumen dari perangkatan musik Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu pemukul. Geundrang dijumpai di daerah Aceh Besar dan juga dijumpai di daerah pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara. Fungsi Geundrang nerupakan alat pelengkap tempo dari musik tradisional etnik Aceh.

Tambo
Sejenis tambur yang termasuk alat pukul. Tambo ini dibuat dari bahan Bak Iboh (batang iboh), kulit sapi dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo ini dimasa lalu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menentukan waktu shalat/sembahyang dan untuk mengumpulkan masyarakat ke Meunasah guna membicarakan masalah-masalah kampung.

Sekarang jarang digunakan (hampir punah) karena fungsinya telah terdesak olah alat teknologi microphone.

Taktok Trieng
Taktok Trieng juga sejenis alat pukul yang terbuat dari bambu. Alat ini dijumpai di daerah kabupaten Pidie, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lainnya. Taktok Trieng dikenal ada 2 jenis :

Yang dipergunakan di Meunasah (langgar-langgar), dibalai-balai pertemuan dan ditempat-tempat lain yang dipandang wajar untuk diletakkan alat ini.
jenis yang dipergunakan disawah-sawah berfungsi untuk mengusir burung ataupun serangga lain yang mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan ditengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau (gubuk tempat menunggu padi di sawah).

Bereguh
Bereguh nama sejenis alat tiup terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh pada masa silam dijumpai didaerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan terdapat juga dibeberapa tempat di Aceh. Bereguh mempunyai nada yang terbatas, banyakanya nada yang yang dapat dihasilkan Bereguh tergantung dari teknik meniupnya.
Fungsi dari Bereguh hanya sebagai alat komunikasi terutama apabila berada dihutan/berjauhan tempat antara seorang dengan orang lainnya. Sekarang ini Bereguh telah jarang dipergunakan orang, diperkirakan telah mulai punah penggunaannya.

Canang
Perkataan Canang dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Dari beberapa alat kesenian tradisional Aceh, Canang secara sepintas lalu ditafsirkan sebagai alat musik yang dipukul, terbuat dari kuningan menyerupai gong. Hampir semua daerah di Aceh terdapat alat musik Canang dan memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda-beda.

Fungsi Canang secara umum sebagai penggiring tarian-tarian tradisional serta Canang juga sebagai hiburan bagi anak-anak gadis yang sedang berkumpul. Biasanya dimainkan setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah ataupun pengisi waktu senggang.

Celempong
Celempong adalah alat kesenian tradisional yang terdapat di daerah Kabupaten Tamiang. Alat ini terdiri dari beberapa potongan kayu dan cara memainkannya disusun diantara kedua kaki pemainnya.

Celempong dimainkan oleh kaum wanita terutama gadis-gadis, tapi sekarang hanya orang tua (wanita) saja yang dapat memainkannnya dengan sempurna. Celempong juga digunakan sebagai iringan tari Inai. Diperkirakan Celempong ini telah berusia lebih dari 100 tahun berada di daerah Tamiang.

Keanekaragaman alat musik tradisional yang terdapat di Aceh merupakan salah satu identitas dari masyarakat Aceh. Oleh karena itu menjadi tugas masyarakat Aceh untuk tetap dijaga, dipelihara kelestariannya. sehingga tidak menjadi punah.

Hal ini tentunya juga peran dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk mendukung dan bersama-sama memperkenalkan kepada generasi muda betapa tingginya nilai-nilai budaya bangsa yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Serta juga sebagai salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan Nusantara dan manca Negara untuk dapat lebih mengenal adat dan seni budaya daerah Aceh.

Sumber : disini

Read More “Alat Musik Tradisional Aceh”  »»

Peta Aceh





Read More “Peta Aceh”  »»

Pergelaran Seni Budaya Aceh Serantau 2008

Rangkaian Gebyar Seni Budaya Aceh yang berisi pameran kerajinan, kuliner, pentas drama musikal, bedah buku, fashion show ija Aceh, diselenggarakan selama bulan Oktober-November 2008 di Grand Indonesia, Jakarta. Acara ini juga menghadirkan kesenian dan makanan dari sejumlah negara yang pernah memiliki pertautan dengan Aceh masa lalu. Rangkaian acara tersebut dibuka Menneg Urusan Peranan Wanita (Menneg UPW), Meutia Hatta Swasono, Jumat (25/10).


Kegiatan ini diselenggarakan Bidang Wanita Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP TIM), bertajuk “Pergelaran Seni Budaya Aceh Serantau 2008,” merupakan sebuah kegiatan untuk menghadirikan kekayaan kebudayaan Aceh secara komprehensif. Setidaknya ada 25 jenis makanan Aceh yang dipamerkan, tiga pelaminan masing-masing dari Aceh Tengah, Aceh Barat dan pelaminan modifikasi.

“Kami ingin memperlihatkan ragam budaya Aceh, termasuk pameran ija Aceh, tenun Aceh serta aneka kuliner Aceh yang sangat khas,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Hj Pocut Haslinda Syahrul MD kepada Serambi, Kamis (24/10).

Pameran seni budaya Aceh serantau diselenggarakan 15-16 Nopember 2008, di Balai Kartini Jakarta. Merupakan pameran bersama serta gelar seni bersama Aceh Aceh dengan negara-negara lain seperti Turki, Persia, Brunei Darussalam, dan sejumlah kesenian daerah dari dalam negeri. Drama musikal “Perempuan Aceh dalam Lintas Sejarah” secara khusus dipertunjukan pada 16 Nopember di Nusa Indah Theater Balai Kartini.

Empat buah buku yang berisi sejarah Aceh dan Melayu ikut diluncurkan. Buku tersebut berjudul “Tabir Tun Sri Lanang Terungkap Setelah Hampir Empat Abad, Dua Mata Bola di Balik Tirai Istana Melayu, Peran dan Silsilah Raja-raja Islam di Aceh Hubungannya dengan Raja-raja Islam Nusantara, dan Peran Perempuan Aceh dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI,” yang seluruhnya ditulis Pocut Haslinda Syahrul.

Pocut Haslinda Syahrul menjelaskan, Aceh merupakan persinggungan berbagai budaya dari berbagai penjuru dunia. Sejak abad VIII, Aceh menjadi tempat strategis untuk persinggahan pelayaran bagi para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, Turki, Sepanyol dan lain-lain dalam perjalanan ke India dan Cina.

Selama itulah terjadi pertautan alamiah dengan penduduk setempat, sambil menyebarkan ajaran Islam. “Ada yang menikah dan menetap di Aceh dan melahirkan keturunan. Percampuran budaya-budaya dunia itulah yang membentuk identitas Aceh selanjutnya,” ujar Pocut Haslinda yang juga turunan langsung dari bangsawan Melayu Tun Srilanang.

Ketua TIM, Hj Cut Ellyzar Syaid Umar mengatakan Taman Iskandar Muda merasa penting menyelenggarakan acara kebudayaan tersebut dalam rangka menyelamatkan dan mengangkat kembali khasanah budaya Aceh yang sangat banyak dan unik. “Apa yang kita persembahkan ini adalah sebagaian kecil dari khasanah budaya Aceh dan kita perlu memberi perhatian,” ujar Cut Ellyzar. ♦ serambinews.com

Read More “Pergelaran Seni Budaya Aceh Serantau 2008”  »»

Bines, Nyanyian Miris Mesum

Bines, seni tari yang lahir dari pengekangan terhadap norma-norma kehidupan. Pengekangan itu dilakukan seorang gadis yang bernama Ode Ni Malelang. Ia dihukum hingga meninggal. Ibunya meratap. Ratapan itulah awal lahirnya tarian bines.
Menurut T Alibasyah Talsya dalam buku Aceh yang Kaya Budaya (1972) tarian bines dimainkan oleh beberapa orang gadis. Kisah awal dari lahirnya tarian ini bermula dari peristiwa yang penuh aib. Aib itu menimpa Ode Ni Malelang, yang terlanjur membuat meseum dengan seorang pemuda.

Ia kemudian didera dengan hukuman cambuk, karena tidak mampu menahan deraan tersebut, Ode Ani Malelang meninggal dan membuat ibunya meratapi kepergiannya.

Ibu si Ode Ni Malelang, sangat terpukul, dalam dukanya yang diliputi kesedihan dan perasaan malu akibat ulah anaknya, sang ibu meratap dan mengiba di depan orang banyak sambil berjalan selangkah demi selangkah mengelilingi mayat anaknya.

Kesedihan sang ibu itu membuat orang-orang disekitarnya tersentuh, maka satu persatu sanak keluarga, para tetangga serta orang-orang yang turut bersedih di tempat itu. Merka terus mengikuti si ibu meratap sambil mengelilingi mayat si Ode Ni Malelang. Menurut Talsya, ratapan ibu saat mengelilingi mayat si Ode Ni Malelang itulah awal dari lahirnya tarian Bines.

Berawal dari kejadian itu, langkah para ibu mengelilingi mayat si Ode Ni Malelang kemudian menjadi sebuah tarian yang terus berkembang dengan berbagai perubahan, tarian yang kemudian dinamai bines. Ratpan para ibu diganti dengan syair-syair dan sajak-sajak kesedihan, yang berisikan nasehat-nasehat yang berguna dalam kehidupan masyarakat.

Tarian bines dimulai denan ucapan Bismillah, para penarinya mengenakan pakaian khas daerah yang dilengkapi dengan berbagai asesoris, mulai dari bentuk sanggul yang dihiasi dengan bunga dan berbagai kembang. Dipinggang para penari diikat kain seperti kain batik. Sambil menari dan bergerak melingkar, para penari terus bersyair dan bersajak. Isi dari syair dan sajak tersebut menyinggung berbagai segi kehidupan.

Selain dimainkan oleh para wanita, bines ada juga dimainkan oleh pria yang disebut Sining Bines. Gerak tari sining bines hampir seluruhnya sama dengan tarian bines, yaitu bergerak melingkar sambil bersyair. Dengan syair-syair tersebut para penonton diingatkan tentang hakikat hidup bermasyarakat yang harus tunduk pada hukum dan norma yang berlaku.

Dalam perkembanganya bines maupun sining bines mulai dimasukkan kisah-kisah lain dalam syairnya sesuai dengan tuntutan waktu dan maksud pengelarannya tanpa merubah bentuk aslinya yang sudah dikenal masyarakat.

Yang membedakan bines dengan sining bines adalah hanyalah pada sining bines, para pria yang menari sambil bergerak melingkar, sesekali secara serentak menghentakkan kakinya ke lantai secara bervariasi dan berirama.

Hentakan tersebut seolah-olah telah mengelamkan retapan daalm syairnya; ratapan yang menjadi asal mula lahirnya bines. Dengan hentakan kakinya tersebut seakan-akan para penari para penari mengingatkan penonton bahwa kededihan tidak selamanya harus dihadapi dengan air mata.

Read More “Bines, Nyanyian Miris Mesum”  »»

 
Copyright 2009 - SERAMBI MEKKAH